Hukum Berwudhu Menggunakan Kuteks

hukum berwudhu menggunakan kuteks

Syaikh Soleh Alutsaymin pernah ditanya tentang wudhunya seorang wanita yang menggunakan kuteks. Beliau rahimahullah menjawab :

Yang dinamakan dengan مناكير(kuteks) adalah sesuatu yang diletakkan di atas kuku yang biasanya digunakan oleh wanita dan memiliki lapisan tipis. Tidak boleh hukumnya wanita menggunakan kuteks untuk sholat karena kuteks menghalangi masuknya air ketika berwudhu dan semua yang menghalangi masuknya air ketika berwudhu maka tidak boleh menggunakannya ketika berwudhu atau juga orang yang mau mandi junub karena Alloh berfirman :

فاغسلوا وجوهكم و أيديكم

Maka siramilah wajah dan tangan kalian (ketika berwudhu) QS. Al Maidah : 6

Wanita yang di kukunya terdapat kuteks maka terhalang air pada kukunya maka hal ini tidak dibenarkan karena ia bisa meninggalkan dari anggota badan yang wajib wudhu atau mandi junub.

Adapun apabila ia tidak sholat seperti haid maka tidak mengapa untuk menggunakannya kecuali apabila perbuatan ini merupakan kekhususan wanita kafir maka hukumnya tidak boleh karena merupakan bentuk menyerupakan diri dengan orang kafir.

Aku(Syaikh Utsaymin.Red) telah mendengar bahwa sebagian manusia berfatwa bahwa menggunakan kuteks sama hukumnya dengan menggunakan khuf dan boleh menggunakan kuteks sehari semalam apabila ia muqim dan jangka waktu tiga hari apabila ia musafir. Akan tetapi ini adalah fatwa yang salah dan tidak semua sesuatu yang menutupi tubuh manusia terbilang sama dengan khuf. Syariat mengajarkan untuk mengusap bagian atas khuf karena memang hal ini sangat dibutuhkan pemakainya. Maka kaki butuh untuk dihangatkan atau ditutupi karena kaki bersentuhan langsung dengan tanah, bebatuan, udara dingin dan semisalnya, maka syariat mengkhususkan untuk cukup mengusap keduanya.

Ada juga orang yang menganalogikan khuf dengan imamah(sorban). Ini tidaklah tepat karena imamah tempatnya di kepala dan kepala merupakan anggota badan widhu yang tingkat wajibnya ringan pada asalnya. Maka wajibnya kepala itu diusap bukan disiram layaknya tangan. Oleh karena itu, Nabi sollallahu alayhi wa sallam tidak membolehkan bagi wanita untuk mengusap sarung tangan ketika berwudhu padahal ia menutupi kedua tangan. Hal ini menunjukkan tidak boleh bagi manusia untuk emnganalogikan semua anggota badan wudhu yang terhalang air dengan imamah dan khuf. Wajib bagi muslim untuk mengerahkan kesungguhannya dalam mengenal kebenaran dan tidak mendatangi fatwa kecuali dia menyadarai bahwa Alloh kelak akan mempertanyakan perbuatannya tersebut karena dia mengaplikasikan syariat Alloh. Allohul muwaffiq Dzat yang memberi petunjuk  kepada jalan yang lurus.

Sumber : Majmu alfatawa wa rasail fadilatis syaikh Muhammad bin Soleh alutsaymin

Cara Mengqodho Sholat Witir

Cara mengqodho solat witir

Syaikh Muhammad bin Soleh Al utsaymin pernah ditanya,”Bolehkah seseorang mengqodho(mengganti) sholat witir apabila ia bangun ketika sudah masuk waktu subuh dan tidak bangun di waktu sebelum adzan subuh dan juga bolehkah mengqodho solat subuh atau solat rawatib ?”

Syaikh Menjawab : Boleh mengqodho solat witir di siang hari apabila ia tertidur sehingga terluput melaksanakannya akan tetapi ia menggenapkan solatnya. Apabila kebiasaannya solat witir dengan 3 rakaat maka ia mengqodhonya dengan 4 rakaat, apabila kebiasaanya witir dengan 1 rakaat maka ia mengqodhonya dengan 2 rakaat. Adapun mengqodho solat wajib dan solat sunnah rawatib maka dikerjakan sesuai sifatnya. Selesai kalam syaikh.

Mana dalilnya ?

Pada sesi lain beliau Syaikh Muhammad bin Soleh Alutsaymin rahimahullah pernah ditanya perihal tatacara mengqodho sholat witir di siang hari yaitu dengan menggenapkannya maka beliau mengatakan,”Telah tsabit di dalam assahih(Red.Maksud beliau adalah sahih muslim) bahwa dulu Rasulullah sollallahu alayhi wa sallam apabila beliau tertidur atau sakit sehingga tidak bisa melaksanakan solat witir, maka beliau mengqodhonya di siang hari sebanyak 12 rakaat”

Wallahu a’lam

Maraji : Majmu fatawa wa rasail fadilatis syaikh Muhammad ibn Soleh Alutsaymin

Hukum Memakai Gigi Palsu Ketika Berwudhu

memakai gigi palsu ketika berwudhu

Syaikh Utsaymin rahimahullah pernah ditanya,”Apabila seseorang memakai gigi palsu apakah wajib baginya untuk melepas gigi tersebut ketika berkumur ?”

Beliau menjawab,”Apabila seseorang memakai gigi palsu yang banyak,maka tidak wajib baginya untuk melepasnya ketika berkumur. Hal ini serupa dengan seseorang yang menggunakan cincin dimana seseorang tidak wajib untuk melepasnya ketika berwudhu, bahkan yang afdol dia cukup menggerak-gerakkannya,tapi hukumnyapun tidak wajib, karena nabi sollallahu alayhi wa sallam menggunakan cincin dan tidak ada nukilan bahwa beliau melepasnya ketika berwudhu,padahal cincin ini lebih menghalangi dari air daripada gigi palsu. Terlebih lagi sebagian manusia merasakan kesusahan kalau harus melepaskan gigi palsunya terlebih dahulu lalu memasangnya kembali ”

Maraji : majmu fatawa wa rasail fadilatis syaikh Muhammad bin Soleh Alutsymin

Hukum Berdiri Menunggu Iqomat

hukum berdiri menunggu iqomat

Syaikh Utsaymin rahimahullah pernah ditanya terkait dengan perbuatan sebagian kaum muslimn yang ketika masuk mesjid mendekati waktu iqomat maka mereka berdiri menunggu imam datang dan tidak melakukan sholat tahiyatul masjid, bagaimana hukumnya :

Syaikh menjawab :

Apabila waktu yang tersisa memang sudah sangat sedikit sehingga tidak sempat untuk sholat tahiyatul masjid, maka hal ini tidak mengapa, adapun apabila mereka tidak tahu kapan imamnya datang maka yang paling afdol adalah dia sholat tahiyatul masjid terlebih dahulu kemudian apabila imam datang dan iqomat dikumandangkan dan orang tadi masih dalam rakaat pertama, maka ia memutus sholat sunnahnya akan tetapi apabila ia berada dalam rakaat ke 2 maka hendaknya ia selesaikan sholatnya dengan meringankannya

Maraji : majmu fatawa wa rasail fadilatis syaikh muhammad bin soleh alutsyamin

Hukum Sholat Tidak Pada Waktunya Karena Ketiduran

hukum sholat tidak pada waktunya karena ketiduran

Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan kepada Syaikh Muhammad Bin Soleh Alutsaymin tentang seseorang yang bangun kesiangan dan tidak bisa sholat subuh kecuali setelah lewat waktunya maka apakah sholatnya diterima ?

Beliau menjawab : Adapun sholat subuh yang ia akhirkan sampai keluar dari waktunya padahal ia mampu untuk untuk sholat tepat pada waktunya dengan cara tidur lebih awal maka sholatnya ini tidaklah diterima , karena apabila seseorang mengakhirkan sholat dari waktu yang sudah ditetapkan tanpa udzur kemudian dia sholat pada waktu yang bukan waktu sholat tersebut,maka sholatnya tidaklah diterima berdasarkan sabda nabi :

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Barang siapa yang beramal (dalam perkara agama) yang tidak ada contohnya dari kami maka amalan ini tertolak (HR.Muslim)

dan orang yang mengakhirkan sholat dengan sengaja tanpa udzur maka ia telah beramal dengan amalan yang tidak pernah diperintahkan oleh Alloh dan RasulNya maka amalan itu tertolak.

Mungkin orang yang ketiduran tadi akan berdalil dengan sabda Nabi sollallahu alayhi wa sallam :

من نام عن صلاة أو نسيها فليصليها إذا ذكرها لا كفارة لها إلا ذلك

Barang siapa yang tertidur dari sholat atau lupa maka hendaklah ia sholat ketika ia ingat dan tidak ada kaffarat bagi sholat tersebut kecuali hal ini (HR.Bukhari)

Apabila mungkin baginya untuk tidur lebih awal sehingga bisa bangun lebih awal atau dia menyiapkan jam weker atau dia meminta seseorang untuk membangunkannya maka perbuatannya mengakhirkan sholat serta tidak berusaha terlebih dahulu ini termasuk bersengaja mengakhirkan sholat dari waktunya dan sholatnya tidak diterima .

Adapun sholatnya yang lain yang ia tegakkan tepat pada waktunya maka tetap diterima.

Saya (Red. Syaikh Utsaymin rahimahullah) memberikan sebuah nasehat bahwa wajib untuk seorang muslim menegakkan peribadahannya kepada Alloh dalam keadaan yang diridhoi Alloh azza wa jalla, karena seseorang diciptakan di dunia untuk beribadah kepada Alloh dan ia tidak tahu kapan maut akan menjemputnya dan ia berpindah ke alam akhirat kampung pembalasan yang bukan lagi tempatnya beramal sebagaimana sabda Nabi sollallahu alayhi wa sallam :

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Apabila seseorang mati maka terputus amalannya kecuali 3 hal : sedekah jariyah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak soleh yang mendoakannya (HR.Muslim)

Selesai fatwa Syaikh Utsaymin rahimahullah

Kalau sudah terlanjur bagaimana ?

Penjelasan beliau di fatwa beliau yang lain dengan tema yang serupa,beliau berkata :

Sholatnya yang tidak diterima ini akan dihisab di hari kiamat kelak maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Alloh.

Maraji : Majmu fatawa wa rasail fadilatis syaikh Muhammad bin Soleh Alutsaymin

Hukum Seorang yang Koma dan Tidak Sholat

orang koma dan tidak sholat

Syaikh Muhammad Bin Soleh Alutsaymin ditanya tentang seorang yang sakit koma selama 2 bulan dimana ia sudah tidak sholat dan juga tidak puasa Ramadhan, apa yang wajib ia lakukan ?

Beliau menjawab :

Ia tidak wajib melakukan apa – apa karena sebab hilang kesadarannya di kala itu, akan tetapi apabila dengan takdir Alloh ia bisa sadar dari komanya maka ia harus mengqodo puasa Ramadhan yang ia tinggalkan dan apabila Alloh menetapkan bahwa ia meninggal, maka tidak ada beban baginya kecuali ia terkena hukum sebagaimana orang – orang yang memiliki udzur kontinu seperti orang tua dan semisalnya. Maka kewajibannya adalah keluarga orang tersebut memberi makan kepada satu orang miskin setiap harinya(Red.Fidyah).

Adapun untuk perkara qadha sholat, maka ulama memiliki 2 perkataan :

  1. Ini adalah perkataan jumhur ulama bahwa tidak ada qadha baginya karena Ibnu Umar radiyallahu anhu dulu pernah pingsan 1 hari 1 malam dan beliau tidak mengqadha sholatnya (¹)
  2. Wajib baginya qadha dan ini adalah perkataan madzhab hanabilah mutaakhirin. Dikatakan di dalam kitab Al Inshaf dan ini merupakan kitab perbendaharaan madzhab hanabilah. Diriwayatkan dari Ammar bin Yasir bahwasanya beliau pingsan selama 3 hari dan mengqodho solat yang ia lewatkan (²)

Penjelasan :

1.Dikeluarkan oleh Imam Malik

2.Dikeluarkan oleh Imam Albaihaqi dalam sunanul kubro 1/387

Maraji : Majmu Fatawa wa Rasail Fadilatis Syaikh Muhammad Bin Soleh Alutsaymin

Hukum Bekerja dengan Orang Kafir

hukum bekerja dengan orang kafir

 

Syaikh Muhammad bin Soleh Alutsaymin rahimahullah pernah ditanya : Ada seseorang yang bekerja  dengan orang kafir maka apa nasehat anda :

Beliau menjawab :

“Kami nasehatkan kepada saudara ini yang bekerja dengan orang kafir, untuk mencari pekerjaan yang didalamnya tidak ada seorangpun dari musuh Alloh dan RasulNya yaitu yang beragama dengan selain islam, kalau memang mudah perkaranya maka inilah yang seharusnya, kalau hal yang demikian itu susah maka tidak mengapa baginya karena baginya pekerjaannya dan bagi mereka pekerjaan mereka, akan tetapi dengan syarat tidak boleh ada di dalam hatinya kecintaan dan loyalitas terhadap mereka dan tetap menerapkan syariat Islam kepada mereka terkait dengan pengucapan salam terhadap mereka dan menjawab salam mereka dan semisalnya, tidak juga menyiarkan dan menghadiri pemakaman mereka,tidak perlu juga menyaksikan hari raya mereka dan tidak juga memberi ucapan selamat terhadap mereka ketika hari raya tersebut ”

Maraji : Majmu Fatawa wa Rasail Fadilatis Syaikh Muhammad Ibn Soleh Al Utsaymin